Sejak Pandemi Tren Bersepeda di Seluruh Dunia Termasuk di Malaysia Naik

Pandemi COVID-19 yang sudah terjadi selama setahun ini banyak sekali tren olahraga yang berkembang. Salah satunya adalah olahraga bersepeda. Banyak orang berbondong-bondong membeli sepeda sepanjang tahun 2020 lalu. Mulai dari sepeda lipat, roadbike, hingga sepeda gunung. Tak lupa orang bersepeda pun lengkap dengan peralatan dan jersey pelengkap style bersepeda.

Kekhawatiran tertular virus corona pada saat berada di transportasi umum telah meningkatkan penggunaan sepeda untuk berangkat ke tempat kerja. Tidak hanya untuk aktivitas sehari-hari, penggunaan sepeda untuk memulai hobi gowes membuat tren penjualan sepeda melonjak di banyak negara. Bersepeda telah lama menjadi salah satu metode transportasi tercepat, paling fleksibel, dan dapat diandalkan.

Bahkan sebelum pandemi, jutaan orang bergantung pada sepeda untuk melakukan pekerjaan atau berangkat kerja. Tetapi ketika keharusan untuk tinggal di rumah untuk sementara waktu membatasi kehidupan sehari-hari di seluruh dunia, peran sepeda berubah. Sama seperti di Indonesia, Malaysia juga muncul tren olahraga sepeda. Bahkan, karena semakin banyak orang olahraga sepeda, pemerintah Malaysia berencana membuat kebijakan untuk membatasi orang bersepeda.

Rencana itu muncul dari wacana otoritas setempat yang akan menerapkan pelat nomor bagi sepeda dan membutuhkan surat izin untuk mengendarainya. Rencana itu muncul melalui pemberitaan koran setempat, Utusan Malaysia, yang mengutip Institut Penelitian Keselamatan di Jalan Malaysia (MIROS).

Kegiatan mengayuh sepeda itu pun bisa dilakukan sendiri atau berombongan, dengan menjelajahi berbagai tempat menarik yang tak bisa dijangkau mobil. Namun dalam pandangan MIROS, bentuk olahraga itu kini menjadi sorotan seiring semakin banyak cyclist yang ngegowes di jalanan.

Mulai banyaknya pesepeda ditakutkan bisa meningkatkan risiko kecelakaan di jalanan. Karena itu, MIROS pun menyuarakan sebuah wacana. Seperti dikutip World of Buzz mereka menyarankan agar setiap kendaraan bertenaga manusia itu dipasangi pelat nomor.

“MIROS kini mengkaji penggunaan pelat dan surat izin di tengah meningkatnya tren dan ketertarikan warga untuk bersepeda,” kata Direktur Jenderal Ir Ts Dr Khairil Anwar Abu Kassim dikutip dari Kontan.co.id.

Kemudian di Inggris, dikutip dari melalui kompas.com, sejumlah toko sepeda mengalami lonjakan penjualan sebagai akibat dari adanya lockdown dan naiknya minat warga Inggris untuk berolahraga.

Beberapa toko sepeda bahkan harus berjuang untuk memenuhi permintaan pembeli. Toko Sepeda Broadribb Cycles di Bicester biasanya menjual 20-30 sepeda per minggu. Stuart Taylor, manajer toko tersebut mengatakan toko itu saat ini menjual 50 sepeda setiap hari, selain itu ada pula peningkatan pada layanan servis sepeda. Di bengkel sepeda Lunar Cycles di London utara, mekanik bengkel itu juga mengatakan bahwa perdagangan sepeda sedang melonjak.

“Industri sepeda mengalami booming. Orang-orang berkata ‘Saya kembali naik sepeda setelah terakhir melakukannya 15 atau 20 tahun yang lalu’,” kata Andrew Hassard dari Mango Bikes di Ballyclare, Irlandia Utara.

Selain di Inggris, lonjakan penjualan sepeda juga terjadi di Amerika Serikat (AS). Melansir LA Times menurut survei mingguan yang dilakukan PeopleForBikes terhadap 932 orang dewasa AS, 9 persen orang dewasa Amerika mengatakan mereka kembali mengendarai sepeda karena pandemi. Mayoritas pesepeda juga mengatakan mereka akan terus naik sepeda bahkan setelah kebijakan stay at home dihapus. Rainer Zaechlin, pemilik Menlo Velo, toko sepeda kecil di sepanjang El Camino, mengatakan dalam 25 tahun dia bekerja mengelola toko, dia tidak pernah merasa sesibuk sekarang.

Ia juga menambahkan bahwa daftar tunggu untuk servis standar yang biasanya tidak lebih dari satu atau dua hari, kini harus menunggu empat minggu lebih akibat meningkatnya permintaan. Selain itu, sepeda yang tersedia, terutama yang harganya kurang dari 1.500 dollar AS, mengalami kekurangan pasokan.

Masih dikutip dari sumber yang sama, pada Maret 2020 atau awal pandemi, pengendara di jalan setapak di AS memuncak pada peningkatan tiga kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019. Menurut Rails-to-Trails Conservancy, sebuah organisasi nirlaba yang mempromosikan pengembangan jalur rel yang tidak digunakan menjadi jalur untuk berjalan kaki dan bersepeda di Amerika Serikat.

Kemudian di Italia, mengalokasikan €210 juta, atau setara Rp3,6 triliun, untuk program cash-back di mana penduduk Italia yang membeli kendaraan tanpa mesin memenuhi syarat untuk mendapatkan insentif €500, atau sekitar Rp8,6 juta, sementara Prancis juga telah menetapkan program serupa.

Bulan Ini

Minggu Ini