Program Bayi Tabung saat Pandemi Tetap Bisa Dilakukan Secara Aman, Asalkan Calon Orang Tua Bisa Lakukan Hal ini

Pandemi COVID-19 membuat seluruh interaksi dengan banyak orang pun harus dibatasi. Hal ini sebagai upaya mencegah penularan virus corona lebih luas lagi. Masyarakat yang ingin berobat, check up pun harus dibatasi. Konsultasi dengan dokter pun kini harus dilakukan dengan online. Hal ini juga ikut berdampak pada program  bayi tabung .  Proses ini memerlukan serangkaian tahapan agar berhasil mencapai kehamilan dan kelahiran yang sehat. Pandemi Covid- 19 membuat proses tersebut terhambat lantaran tatap muka antara dokter dan calon orangtua semakin terbatas.

Program  bayi tabung  merupakan usaha alternatif untuk mendapatkan kehamilan, bagi pasangan yang kesulitan memperoleh buah hati. Program  bayi tabung  dilakukan dengan pembuahan di luar rahim ibu atau in vitro fertilization (IVF). Namun, program bayi tabung di saat pandemi ini bisa dilakukan dengan cara memodifikasi program. Hal ini dilakukan agar program bayi tabung tetap berjalan, dan pasangan suami istri bisa mendapatkan buah hati yang sehat. Namun, program IVF tetap dapat dilakukan dengan prosedur yang ketat dan selektif.

Selektif berarti, calon orang tua mesti melalui screening ketat berupa pengecekan suhu tubuh dan gejala yang muncul. Calon orangtua juga mesti mengikuti rapid test COVID-19 atau Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk membuktikan tidak terinfeksi virus corona.

Orang tua yang memenuhi persyaratan administrasi dan negatif corona bisa mengikuti program IVF di rumah atau di hotel, tergantung preferensi. Program di hotel dilakukan untuk memberikan kenyamanan pada orangtua. Program ini bakal berlangsung selama dua minggu, lebih cepat ketimbang program bayi tabung pada waktu-waktu normal. Selama proses ini dokter akan memantau kesehatan calon orangtua melalui online. Program bayi tabung di masa pademi ini, keharusan orang tua bertemu atau tatap muka langsung dengan dokter tidak ada lagi.

Sementara kunjungan ke klinik hanya dilakukan untuk pengecekan kondisi calon ayah berupa keadaan sperma dan kondisi ibu berupa keadaan sel telur. Calon orang tua juga akan melakukan tes darah dan USG. Setelah itu, dokter akan melakukan tindakan pengambilan sel telur dan sperma calon orang tua. Pembuahan akan dilakukan di laboratorium hingga berkembang menjadi embrio–tahap paling awal perkembangan bayi.

Setelah melewati tahapan tersebut, para orangtua juga mesti bersabar untuk bertemu dengan si buah hati. Pasalnya, Ivan menjelaskan pada masa situasi COVID-19 saat ini, tim dokter merekomendasikan untuk menyimpan embrio terlebih dahulu dan tidak menanamnya ke rahim ibu.

Ivan menerangkan, penyimpanan embrio penting dilakukan secepat mungkin dalam proses bayi tabung karena faktor usia sangat berperan besar dalam kualitas kehamilan. Jika ditunda, dikhawatirkan kehamilan semakin sulit terjadi. Penyimpanan embrio juga dianjurkan untuk perempuan berusia di atas 35 tahun karena sel telur yang sudah semakin berkurang. Penyimpanan embrio ini membuat orangtua mesti menunggu hingga waktu yang belum dapat dipastikan. Ivan menyebut penanaman embrio di rahim ibu akan dilakukan setelah COVID-19 selesai.

Penanaman embrio merupakan fase krusial dalam kesuksesan siklus bayi tabung. Selama dua hingga tiga bulan setelah penanaman embrio kembali ke rahim, ibu mesti berada dalam keadaan tenang agar kehamilan berhasil tercipta. Sedangkan situasi COVID-19 diperkirakan justru bakal membuat ibu lebih tertekan meski  belum ada penelitian yang komprehensif mengenai dampak COVID-19 terhadap kehamilan.

Bulan Ini

Minggu Ini