Kasus COVID-19 Masih Tinggi, Malaysia Kembali Terapkan Kebijakan Kawalan Pergerakan Ketat di Beberapa Negara Bagian

Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung sejak awal tahun lalu hingga kini belum berakhir. Kurva kasus penderita corona di setiap negara hari demi hari fluktuatif, ada yang turun tapi ada juga yang naik drastis.

Naiknya angka kasus corona ini membuat sejumlah negara memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat. Di Indonesia dikenal dengan istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau kini istilahnya diganti menjadi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Begitu pun di juga di Malaysia yang menerapkan Perintah Kawalan Pergerakan (PKP). Penerapan ini dilakukan pemerintah Malaysia sejak wabah ini melanda Maret tahun 2020. Di awal tahun 2021 ini, Malaysia kembali menjalankan pembatasan pergerakan masyarakat atau yang dikenal dengan Movement Control Order (MCO).

Pada 11 Januari lalu, dikutip dari The Straits Times, Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin mengatakan beberapa negara bagian seperti, Melaka, Johor, Penang, Selangor dan Sabah serta teritori federal Kuala Lumpur, Labuan dan Putrajaya kembali memasuki Perintah Kawalan Pergerakan. Hal ini dikarenakan kata Muhyiddin, setiap harinya ada 2.000 kasus COVID-19 di beberapa negara bagian tersbut. Sehingga, Perintah Kawalan Pergerakan perlu dilakukan kembali.

“Untuk mencegah penularan COVID-19 lebih luas lagi, pemerintah dan atas anjuran dari menteri kesehatan, kami memutuskan untuk menerapkan kembali perintah kawalan pergerakan selama 14 hari, terhitung sejak 26 Januari,” kata Muhyiddin.

Sementara negara bagian, Pahang, Perak, Negeri Sembilan, Kedah, Terengganu dan Kelantan akan ditempatkan di pada level yang tidak terlalu ketat. Sedangkan Perlis dan Sarawak akan ditempatkan pada fase pemulihan.

Malaysia mengalami lonjakan kasus sejak gelombang ketiga infeksi mulai melanda seluruh negeri sejak September tahun lalu. Hal ini justru akan mengancam kamar-kamar rumah sakit umum penuh oleh pasien COVID-19. Bahkan ada 15 rumah sakit di Malaysia, kata Muhyiddin sudah mendekati kapasitasnya. Pemerintah Malaysia mencatat 2.232 kasus baru dan 4 kematian baru pada hari Senin. Sekarang memiliki total 138.224 kasus COVID-19 dan 555 kematian sejak awal pandemi.

Sementara, Direktur Jenderal Kesehatan Noor Hisham Abdullah mengkhawatirkan dengan tingginya jumlah kematian. Sejak 1 Januari, telah terjadi 71 korban jiwa. Sebagai perbandingan, tercatat kurang dari 100 kematian dalam sembilan bulan pertama tahun 2020. Jumlah kasus harian, yang rata-rata sekitar 2.000 dalam beberapa pekan terakhir, mencapai rekor 3.027 pada 7 Januari.

Bulan Ini

Minggu Ini