8 Mitos dan Fakta Seputar Kolesterol yang Perlu Diketahui

Selain serangan jantung, penyakit yang paling ditakuti masyarakat pada umumnya adalah kolesterol. Apalagi jika usia seseorang sudah tidak muda lagi, mereka pasti akan ingat dengan hal yang satu ini, dan mulai menjaga pola makan mereka.

Namun, perlu diketahui ketakutan masyarakat akan penyakit ini selalu dibayang-bayangi oleh sejumlah mitos yang sepatutnya tidak perlu dipercayai. Banyak sekali mitos yang beredar di masyarakat terkait kolesterol. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman yang benar terhadap kolesterol oleh masyarakat.
 
Oleh karena itu, penting untuk dapat meluruskan mitos-mitos yang telah lama beredar di masyarakat, agar gejala kolesterol dapat dihindari dengan lebih cermat dan tepat dalam menyikapinya.
 
Berikut beberapa mitos dan fakta seputar kolesterol:

1. Sering olahraga kadar kolesterol akan jadi baik
Pada orang berkadar kolesterol tinggi, jika berolahraga, diet dan dalam keadaan fit, berarti kolesterol pasti baik. Padahal faktanya, selain olahraga dan diet, ada hal lain yang mempengaruhi kolesterol, seperti berat badan, merokok, riwayat keluarga, umur dan jenis kelamin. Agar kolesterol tetap terkontrol dibutuhkan pola hidup sehat (diet dan olahraga), berhenti merokok dan juga kepatuhan minum obat (bagi yang menderita kolesterol tinggi).

2. Kolesterol hanya terjadi pada pria
Kadar kolesterol yang tinggi dan penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan pembuluh darah) hanya masalah pria. Faktanya walaupun di masa sebelum menopause wanita memproduksi estrogen yang dapat mengurangi risiko penyakit jantung, namun perlu dilihat juga faktor lain seperti hiperkolesterolemia (kolesterol tinggi), hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes, faktor keturunan dan lainnya.

3. Cukup hindari makan daging, santan dan jeroan
Masyarakat sering terjebak pada hal ini. Dengan tidak mengkonsumsi daging, lemak, santan, jeroan dan keju dalam makanan maka kolesterol pasti normal. Padahal faktanya, belum tentu. Karena 80 persen dari kolesterol darah dihasilkan dari dalam tubuh sendiri (endogen). Bila metabolisme tubuh sudah memburuk, maka dibutuhkan obat untuk mengendalikan kadar kolesterol secara terus menerus (jangka panjang). Selain itu, dibutuhkan pula modifikasi gaya hidup melalui diet dan olahraga.

4. Kolesterol tinggi hanya ada pada orang tua
Kadar kolesterol yang tinggi hanya pada orang tua saja, yang proses metabolismenya sudah menurun. Padahal faktanya kolesterol tinggi tidak hanya diderita oleh orang tua saja, bahkan usia anak-anak atau remaja pun bisa menderita hiperkolesterolemia. Pembentukkan kerak atau plak (timbunan lemak) pada dinding pembuluh darah pernah dijumpai pada usia anak-anak dan kejadiannya meningkat seiring dengan pertambahan usia.
 
5. Kolesterol tinggi tak berbahaya
Kadar kolesterol tinggi tidak berbahya karena tidak menimbulkan gejala. Namun pandangan ini kurang tepat. Meski tidak bergejala, kolesterol tinggi berbahaya karena dapat mengubah dinding pembuluh darah dan memicu penyakit jantung koroner. Sekitar 40 persen kematian mendadak akibat serangan jantung disebabkan karena tingginya kadar kolesterol.

6. Kolesterol terjadi pada orang gemuk
Berat badan yang berlebihan selalu dipandang memiliki kolesterol yang tinggi dibanding dengan orang yang kurus. Tapi hal ini belum tentu benar. Karena kadar kolesterol dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk apa yang dimakan, seberapa cepat tubuh memperoduksi dan membuang kolesterol yang jahat (LDL atau Low Density Lipoprotein), tingkat kesehatan dan kebiasaan makan.

7. Tak risau jika tak ada komentar dari dokter
Tidak perlu risau jika  dokter  tidak komentar tentang kadar kolesterol Anda. Faktanya karena tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan kolesterol sering tidak dilakukan. Kesehatan Anda adalah tanggung jawab Anda sendiri. Pastikan Anda secara rutin memeriksa kadar kolesterol, termasuk kolesterol LDL (jahat), kolesterol HDL (baik) dan trigliserida. Untuk mengontrol kadar kolesterol dalam darah, sebaiknya pemeriksaan di laboratorium secara berkala minimal setiap 6 bulan sekali.

8. Kolesterol normal tak perlu konsumsi obat antikoleseterol
Ada pandangan masyarakat bahwa, jika kadar kolesterol sudah menurun maka tidak perlu lagi mengonsumsi obat antikolesterol. Hal ini justru kurang tepat. Karena 80 persen kolesterol darah dihasilkan oleh tubuh sendiri.

Sehingga, jika metabolisme tubuh seseorang sudah memburuk, dibutuhkan penggunaan obat jangka panjang (terus menerus) selain modifikasi pola hidup dengan diet dan olahraga.

Bulan Ini

Minggu Ini